Gue tahu rasanya jadi orang yang hidupnya setengah di jalan. Minggu ini di Surabaya, minggu depan udah di Medan, bulan depan entah di mana. Tas selalu dalam posisi siap lempar ke kabin, dan isi koper sering nggak sempat dirapikan karena buru-buru packing lagi. Nah, di tengah ritme kayak gitu, godaan buat peduli lingkungan sering terasa mengada-ada. "Ah, nanti aja kalau udah nggak sering dinas." Padahal, jujur aja, kapan tuh "nanti"-nya?
Beberapa tahun lalu gue sempat berpikir sama. Sampai akhirnya gue sadar, justru karena sering bepergian, jejak sampah gue lebih gede dari orang yang diem di rumah. Botol air mineral beli di bandara, kantong plastik dari minimarket, kemasan makanan pesan antar di hotel. Kalau dihitung setahun, banyak juga. Dari situ gue mulai cari cara memulai yang nggak bikin ribet dan nggak bikin dompet menjerit. Ini yang gue pelajari.
1. Mulai dari Barang yang Memang Selalu Kamu Bawa
Kesalahan gue dulu: beli perlengkapan "hijau" lengkap — tote bag kanvas, tumbler stainless mahal, kotak makan lipat, sedotan bambu. Semuanya berakhir nganggur di lemari karena nggak pernah gue masukin tas. Akhirnya gue ubah pendekatan: bukan beli baru, tapi ganti barang yang udah rutin gue bawa dengan versi yang lebih tahan lama.
Baca juga: 5 Jebakan Awal Hidup Hijau yang Sering Bikin Pemula Nyerah
Contoh paling gampang, botol minum. Dulu gue selalu beli air mineral di luar. Sekarang gue bawa satu botol yang udah gue punya di rumah — nggak perlu beli yang mahal, botol plastik tebal bekas pun jadi. Isi ulang di bandara gratis kok, tinggal cari water station yang sekarang udah banyak. Modal awalnya nol rupiah karena pakai yang ada. Efeknya? Dalam sebulan gue bisa hemat belasan ribu dan ngurangin belasan botol plastik.
Prinsipnya simpel: jangan tambah barang, ganti kebiasaan. Barang yang udah ada di rumah dan sering kamu pakai itu kandidat terbaik.
2. Manfaatkan "Waktu Mati" di Perjalanan
Orang yang sering bepergian punya satu hal yang orang lain nggak punya: waktu tunggu. Di bandara, di lobi hotel, di ruang tunggu stasiun. Dulu gue isi waktu itu dengan scroll medsos. Sekarang sebagian gue pakai buat hal kecil yang berdampak.
Misalnya, sambil nunggu boarding, gue sempatin buka aplikasi buat cek apakah hotel tujuan punya program daur ulang atau nggak. Atau sekadar baca satu artikel pendek soal cara memilah sampah. Nggak berat, kok. Lima menit doang. Tapi karena dilakukan rutin tiap perjalanan, lama-lama jadi kebiasaan dan ilmunya nempel.
Gue juga mulai bawa satu kantong kain kecil yang dilipat di saku tas. Fungsinya buat belanja camilan atau buah di sekitar hotel. Kelihatan sepele, tapi kantong ini udah nyelametin gue dari puluhan kantong plastik dalam setahun. Dan semuanya berawal dari waktu tunggu yang biasanya gue buang percuma.
3. Pilih Penginapan dengan Cara Berpikir Sedikit Beda
Ini bagian yang sering dilupain. Kita biasanya milih hotel berdasarkan harga dan lokasi. Nggak ada salahnya, tapi coba tambahin satu kriteria: apakah tempat ini meminimalkan sampah?
Gue bukan berarti harus cari hotel berbintang yang punya sertifikasi hijau. Terlalu mahal dan nggak realistis buat kebanyakan orang. Yang gue lakuin lebih sederhana: kalau bisa, pilih penginapan yang nyediain dispenser air minum isi ulang, bukan cuma botol kemasan di kamar. Atau yang sarapannya pakai piring asli, bukan wadah styrofoam sekali pakai. Kadang selisih harganya nggak seberapa, tapi dampaknya lumayan.
Kadang yang paling ramah lingkungan itu bukan yang paling mahal, tapi yang paling nggak banyak buang-buang barang.
Kalau lagi harus nginep di tempat yang nggak ada pilihan lain, ya udah. Nggak perlu merasa bersalah berlebihan. Yang penting kamu sadar dan mulai milih lebih baik di kesempatan berikutnya.
4. Bikin "Ritual" Kecil Sebelum dan Sesudah Jalan
Gue percaya perubahan besar itu datang dari ritual kecil yang konsisten. Sebelum berangkat, gue selalu cek tiga hal: botol minum udah di tas belum, kantong kain udah dilipat belum, dan power bank udah penuh belum (biar nggak beli baterai sekali pakai di jalan). Tiga hal, nggak sampai dua menit.
Sesudah pulang, ritualnya juga sederhana. Gue pisahin sampah yang kebawa pulang — biasanya struk, kemasan camilan, atau tisu — dan buang di tempat yang bener. Kadang gue juga nyuci botol dan kantong kain langsung biar besok siap dipakai lagi. Kelihatan remeh, tapi kalau nggak dijadwalin, barang-barang ini gampang kelupaan dan akhirnya nggak kepakai.
Kenapa Ritual Ini Penting buat yang Sering Traveling
Karena hidup di jalan itu penuh keputusan cepat. Kalau nggak ada ritual otomatis, kamu bakal selalu jatuh ke pilihan paling gampang — yang biasanya berarti paling banyak sampahnya. Ritual kecil ini semacam rem otomatis yang bikin kamu mikir dua detik sebelum beli sesuatu yang nggak perlu.
5. Mulai dari Satu Kebiasaan, Bukan Sepuluh
Nah, ini yang paling sering bikin orang gagal. Semangat di awal, langsung pengin ngelakuin semuanya sekaligus, terus dua minggu kemudian nyerah karena kewalahan. Gue udah ngalamin dan rasanya kayak gagal total.
Saran gue: pilih satu kebiasaan aja dulu. Misalnya cuma "selalu bawa botol minum". Jalanin sebulan. Kalau udah otomatis dan nggak kepikiran lagi, baru tambah satu lagi — misalnya bawa kantong kain. Pelan-pelan aja. Nggak ada lomba kok.
Ingat, tujuan kita bukan jadi orang paling hijau sedunia. Tujuan kita cuma bikin jejak sampah kita sedikit lebih kecil dari kemarin, sambil tetap bisa jalan-jalan dan kerja kayak biasa. Modal terbatas? Nggak masalah. Waktu mepet? Justru di situlah triknya — pakai yang udah ada, manfaatkan waktu tunggu, dan mulai dari satu hal kecil yang bener-bener bisa kamu jalanin. Koper kamu mungkin tetap nggak pernah rapi, tapi setidaknya isinya sekarang sedikit lebih ramah buat bumi.